Aku terhimpit dalam labirin yang memaksa ku untuk diam saja. Memaksa ku untuk merendam emosi agar tak memuncak amarah ku, yang semakin ditahan malah keluar sedikit demi sedikit pada tempat yang bukan seharusnya. Aku tidak lihai dalam bermain dengan suguhan cerita mimpi dan angan, karena pada dasarnya hati ku hanya ingin bernaung bersama realita saja, tapi sudah sewajarnya manusia lihai berangan, maka gagal lah diriku membuang segala angan ku untuk menjadi serius pada realita.
Manusia kadang tak mau sadar kalau diri nya terjebak dalam waktu dan kondisi. Lihat saja, mana ada manusia didunia ini yang mengatakan 24 jam itu cukup untuk satu hari? Bahkan gelandangan pun belum merasa cukup terpanggang teriknya matahari, karena ia masih ingin meminta balas kasihan sampai bertemu adzan subuh kembali. Apalagi orang-orang pemimpi, seperti saya.
Dan lihat, berangan memakan banyak waktu, tapi orang-orang masih saja melakukannya. Sebagian orang sukses berpikir bahwa itu tidak penting, buang-buang waktu. Padahal salah satu syarat nya untuk bisa berdiri pada jabatannya sekarang adalah sebuah mimpi. Waktu.
Beralih ke kondisi. Kondisi buat kita runyam sewaktu-waktu. Buat kita berbohong bahkan bisa saja tidak peduli jika kita sendiri memegang utuh suatu komitmen. Kondisi buat kita berakhir perih atau malah kebalikannya. Disaat berbagai macam masukan memaksa kita untuk tidak menapakkan kaki pada hal itu tapi kondisi berkata sebaliknya, kondisi yang hanya kamu ketahui seorang. Kondisi dirimu dimana tidak ada satupun orang mengerti bahkan, untuk sekedar 'ingin mengerti' saja sudah ogah.
Hingga kini waktu dan kondisi merupakan peran terpenting bagi kehidupan seseorang. Terus bermain dan menghancurkan setiap individu saat sedang asyik menyalahkan mereka sebagai peran antagonis utama. Yang sebenarnya tidak bisa dibenarkan dan disalahkan juga, sih.. karena pada hakikatnya mereka adalah peran penting yang tidak mengaku penting. Inosen tetapi sungguh penuh muslihat.
Aku sendiri kini sibuk menyalahkan Waktu dan Kondisi. Menyumpahkan kata-kata terbinal ku hanya untuk mereka berdua. Tapi apa daya? Waktu tak akan bergeming meskipun umpatan ku begitu keji, dan kondisi juga tak akan sudi untuk berubah walaupun ku berdoa sampai mati.
Kadang setiap nasip ku malah membuat ku penasaran, apa ini bukan salah mereka?
Namun, siapa lagi yang patut aku salahkan? Aku? Jika aku mengaku salah pasti hati terdalam ku tetap menolak mentah-mentah dan merasa tak adil hingga berbohong lagi lah aku sebegai manusia. Atau orang-orang itu? Mereka juga sama dengan aku, kebingungan untuk menempatkan waktu dan kondisi yang tepat, dan dengan menyalahkan mereka, sama saja dengan menyalahkan diriku sendiri.
Karena aku dan mereka sama-sama benda hidup yang memiliki emosi.
Sedangkan Waktu dan Kondisi tak lain dari benda mati yang pasrah untuk diumpati.
Maafkan saya Waktu.. Maafkan saya Kondisi..
Ini adalah kali pertama saya meminta maaf pada sosok terjahat di muka bumi.
26/12/2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar