Ketika sepi menyeruak ruangan ku yang luas. Kulihat dirinya dari jendela ruangan ku, dirinya menepi dengan kaki yang bertekuk manja. Semua raga mengelilingi sendu nya. Berbagai manusia sok suci memintanya kembali seperti dulu. Namun ia tahu jiwa para manusia itu tidaklah bersama mereka.
Sial, sepi terus mendera. Dingin malam telah menjadi teman akrab baginya. Dan saat bulan dan bintang begitu segan menemaninya. Ia hanya bisa meringkuk rela karena sadar akan dirinya yang hina.
Hasrat ku terpikat oleh ke kalutan nya. Yang menyelimutinya dengan asap dari sekotak rokok bernama Sampoerna. Ia bermain dengan asap yang keluar dari mulutnya. Mengumpat akan setiap semut yang mulai menggerogoti kulit cantiknya. Ia menyambut minuman dari para pemuda itu sambil tersenyum bahagia, tahu akan kebaikan yang telah menghancurkannya.
Aku ingin dia tetap menepi diseberang jalan itu. Mengikat tangannya dalam setekuk wajah sendu dan pasrah. Bercerita pada entah siapa akan betapa bangsat nya dunia dan manusia. Agar aku tahu semuak apa sesosok malaikat dengan ketololan para manusia, serta keperihan hidupnya yang dengan sialnya jatuh ke dunia.
Sifat alami yang pernah ia miliki sudah tidak bersemi lagi dari bisikan surga. Polos, putih, tanpa dosa, itulah saat kali pertama aku melihat nya. Kini hanya pancaran mata nya yang cerah namun kosong yang masih tersisa. Tetapi sayang.. aku masih menjadi penonton setia nya.
Ungkapan ini mungkin terdengar sedikit ambigu. Namun tiada yang bisa mengalihkan perhatian ku darinya. Pemandangan ini sungguh membuat ku tergila-gila. Atas kehancuran dirinya di dunia. Bukan, aku bukan senang diatas penderitaannya. Meski sudah ku anggap yang kulakukan juga tak ada bedanya.
Tidakkah kamu melihat wajahnya yang begitu rela untuk menjadi hancur..?
Berani sumpah aku tahu dia malaikat dari surga.
28 . 04. 14