Cari Blog Ini

Senin, 02 November 2015

Semesta

Bulan purnama menatap malu terhadap kami yang masih kedinginan padahal sudah dibalut oleh serangkaian baju dan penutup kepala. Suasana terus menjadi dingin manapun tak ada yang ingin mencairkan suasana. Biarkanlah keadaan terus bersemayam seperti berada di antartika. Aku sudah biasa dengan keadaan seperti ini, karena sudah sewajarnya kebahagiaan tidak diwakilkan oleh suasana.

Mata nya redup namun tajam saat memandang ku, ia seakan ingin menembus apa yang ada dalam pikiran ku ini. Aku hanya tersenyum. Karena apalah aku ini yang tidak pernah bisa menerka apa yang ada di dalam pikirannya. Waktu kini memutar balikkan pencitraan tentang kasih sayang yang hanya omong kosong adanya. Walau sudah ku yakinkan untuk tidak kembali terjatuh pada lubang yang sama, sorot matanya tetap mengajakku bermain dalam sekumpulan paradoks yang dirinya buat sendiri. Yakinilah aku hanya sebuah obat dari semua keluhannya. Dan aku tetap senang akan hal itu.

Manusia pada dasarnya adalah individu terbodoh di dunia. Mau saja dipermainkan hanya karena hal itu menyenangkan meski sudah rugi bandar. Kalau begitu mari mundur sejenak mencari keyakinan tentang peradaban dunia yang makin lama makin aneh terdengar. Aku adalah salah satunya. Meski sejujurnya diriku tak memiliki keyakinan.

Karena sebagian besar jiwaku telah direnggut oleh dirinya yang fana. Kebingungan berputar dikepala namun enggan untuk dipertanyakan, kepada dirinya yang menatap ku dengan penuh kuasa.

Andai saja noda tak berarti sesuatu, maka ku habisi dia dan ku ambil kembali jiwaku. Tetapi sekali lagi untuk apa aku berpikir seperti itu, mengingat keadaan selalu berpihak kepadanya, sang tuan dari semesta ku.

Kamis, 22 Oktober 2015

dilemma

Ada kisah dimana kami saling menatap linglung.
Tentang menyapa yang begitu terasa salah, dan tentang melangkah jauh yang makin mengukir penyesalan. Aku ini terasing dalam silir angin, tak kenal siapa-siapa layaknya daun yang gugur tertiup angin.
Merana disetiap sudut bola mata seseorang yang asyik dalam mempermainkan sapaan dalam sebuah konsep yang universal. Sedangkan apalah aku ini, hanya seseorang yang penuh oleh keterasingan khayalan yang dibuat-buat sendiri.
Namun selalu begitu akhirnya, aku tidak bisa memperjuangkan khayalan ku sendiri. Biarkanlah ilusi ku merana diatas trotoar yang diinjak-injak oleh pejalan kaki, tidak dipungut, tidak dibuang ketempatnya. Karena hanya disitulah ilusi ku pantas bersemayam. Dijalanan, dan tidak ada yang memedulikan.
Kini aku menanyakan hal ini kepada diriku sendiri, untuk apa aku tersenyum manis kepada halnya yang hanya ingin menjadi ilusi seseorang? Padahal ku sudah lelah, aku ini terlalu sering jatuh di lubang yang sama.
Eh, untuk apa aku menceritakan masa lalu? hahaha
Baiklah untuk dirimu yang selalu berhasil membuat perut ini bergetar setiap kamu menyapa diriku,
Tolong lah jangan berhenti menyapaku.

Sabtu, 19 September 2015

Kemeja Putih

Aku bersandar di salah satu sudut kamar nya. Aku sendiri sibuk membolak-balikkan majalah porno yang ia punya, entah mengapa gadis didepan ku ini mempunyai majalah porno tergeletak begitu saja diatas mejanya. Namun karena aku melihatnya yang sepertinya begitu malas berbicara denganku, aku pun mengurungkan niat ku untuk menanyakan "kenapa".

"Tsk.."
Aku mendongkakan kepala ku kearah nya. Dia terlihat mengernyit kepanasan karena jarinya terciprat oleh air mendidih. Dia yang mengenakan kemeja putih ku yang terlihat sangat kebesaran tanpa mengenakan bawahan layaknya memamerkan kakinya yang panjang di hadapanku. Meskipun niatnya memamerkan hal itu kepada ku adalah yang sangat tidak memungkinkan, tapi aku masih berharap kalau dia memang memamerkan hal itu kepada ku. Ah.. itu semua karena aku dan dia sudah begitu lama bersama. Semua hanya karena kebiasaan.

"Masuk-masuk aja lo ke kamar gue, emang udah minta izin?"
"Pake-pake aja lo baju gue, emang udah minta izin?", ia pun diam dan duduk diatas kursi di kamarnya.

Pikiran ku mendesak ku untuk terus berada di kamarnya, namun aku memiliki perasaan untuk cepat-cepat keluar dari kamar ini. Kamarnya yang hanya ada kasur, meja besar seperti meja di restoran sunda yang lesehan dan gantungan baju. Tidak ada lemari. Untuk kamar sebesar ini, kamar ini sungguh kosong. Aku pernah bertanya mengapa ia tidak menambahkan beberapa properti lagi, ia hanya berkata "Aku suka hal yang kosong, seperti isi kepala mu"
Sekali lagi, aku hanya tersenyum mendengar adik ku sendiri berkata seperti itu.

"Mikirin apaan sih? mau denger lagu, ngga?"
Diputarnya salah satu lagu favorit kami saat masih kecil, Only Love Can Break Your Heart

Akhirnya ada bising..

Semenjak Mama sudah berpulang ke pelukan Nya, rumah ini menjadi sepi. Kami adalah dua orang yang pendiam. Mungkin keturunan Papa? ya aku tidak pernah mengingat sosoknya, entah meskipun dia selalu ada dimana pun kami berada, kehadirannya tidak pernah begitu mengesankan didalam memoriku.
Ia berjalan ke arah ku, duduk dihadapan ku, menatap ku sok serius. "Kenapa sih?" tanya ku, terganggu oleh tatapannya
"Ajari aku dansa, kamu ikut Prom kan saat SMA? dengan Rachel? Sedangkan aku tidak"

Padahal aku dan Rachel sama sekali tidak pergi ke prom. Kami hanya menghabiskan waktu di satu taman komplek perumahan yang luas. Lumayan bisa buat tidur. Menurut kami prom hanya menghabiskan uang, namun baik orang tua ku maupun Rachel sangatlah bersemangat dengan prom. Untuk uangnya, kami habiskan untuk beli komik dan memesan Pizza Hut.
Sedangkan saat malam prom adik ku ini, Mama berada di rumah sakit, jadi.. kembali lah ia dengan maskara nya yang luntur dan mengaku berlari di malam hari untuk dapat memeluk Mama.

Dengan matanya yang membesar, memanja, mengingatkan ku saat ia memohon kepada ku untuk tidak mengatakan kepada Mama bahwa dia pulang jam dua pagi hanya karena penasaran akan dunia gemerlap. Sebagai kakak yang baik, aku pun berdiri, mengabulkan permintaan adikku Aku menyentuh pinggulnya, dan membiarkan ia menggantungkan kedua tangannya diatas pundak ku.
Setiap alunan lagu Neil Young menuntun kami bergerak maju mundur, kanan kiri, sesuai nada yang makin membawa kehanyutan ku akan...
Eh,

Tangan kanannya kini menuju kearah leher ku. Matanya terpejam, bibirnya tersenyum, ia seperti sedang terhanyut oleh aluanan lagu. Aku hanya memalingkan mataku dari hadapannya dengan menoleh ke arah lain. Namun tangan kanannya malah membimbing kepala ku untuk menghadap kepadanya.
Sehingga pada akhirnya...

Tangan kanan itu tetap membimbing ku.

Dasar adik kurang ajar.


Jumat, 31 Juli 2015

Kalikan dengan satu

Selembar kertas putih sudah siap untuk ditulisi.
Atas dirimu yang bertamu ketika sendu, jatuh cinta, dan jenuh. Yang sungguh berani menampakkan rupa diatas abu yang berterbangan karena tertiup oleh angin. Kau pasti tahu kalau detik terus berjalan? Maka apadaya lah diriku tidak mungkin bisa menghentikan, walau memang ku ingin malam tetap menjadi malam, dan bulan terlalu bahagia karena indahnya dunia saat ini, sehingga ia merasa rugi untuk terbenam. Lalu, tetaplah kita bersemayam, mengadu satu sama lain tentang terasing nya kita di muka bumi.

Sebenarnya aku ingin membiarkan kertas ini kosong tak terisi, sehingga malam ku dan malam mu akan menuai cerita lagi. Tapi kurasa sungguh sayang jika tidak ada dirimu dalam sebuah rangkaian aksara ku kali ini, aku ingin mengingat mu disetiap untaian kata, sampai ku tersenyum-senyum bodoh karena kelakuan kita yang bodoh, juga. Meskipun kau sendiri tahu, melakukan hal bodoh ini bersama ku adalah hal yang sangat menyenangkan. Akui saja, aku akan sangat senang mendengarnya.

Hal ini bukanlah hal yang seharusnya kita lanjutkan lebih jauh. Waktu, tempat, dan posisi tidak menandakan bahwa hal ini aman untuk diperankan oleh kita. Namun, berbagai pihak mendesak kita untuk menikmati hal-hal yang bukan seharusnya seperti ini, mereka adalah kondisi dan kesempatan, sungguh kali ini kondisi benar-benar membuatku bingung setengah mati. Ya, maka tersenyumlah kamu, atas ucapan ku yang kau bisa nilai dengan diri sendiri. Ku yakin kamu membenarkan perkataan ku kali ini. Karena kita, tak pernah benar-benar berada dalam jalur yang berbeda.

Mari, ku luruskan lagi. Aku sendiri tahu, kondisi dan kesempatan bukan hanya berpihak kepada kita. Lebih pahitnya, kita memiliki mereka dalam jenis yang sama. Sehingga begitu malas bagi kita untuk melawannya, dan bodohnya (karena kita memang bodoh) kita malah sama-sama berusaha membenarkan hal yang seharusnya, ehm, salah. Dan jika terungkap, kita akan sama-sama menyangkal. Betul sekali, dengan begitu kompak nya.

Jadi, inilah kita. 
Yang sama-sama bersembunyi dari waktu, tempat, dan posisi untuk merusak keamanan. Yang sama-sama sedang bersengkokol dengan kondisi dan kesempatan untuk mencari kenyamanan. Yang sama-sama terjebak dalam relung kejenuhan yang digunakan sebagai alasan. Dan yang saling menatap tanpa adanya kiasan.

***


Habislah kata-kata ku untuk menggambarkan malam ini (dan juga malam-malam sebelumnya) 
walau ku harap, tulisan ku ini akan membawa ingatan ku kepada mu, namun tulisan tetap memutar balikkan imajinasi dengan dirinya yang muncul sebagai fantasi. Maka kalikan lah kertas ku dengan angka satu, agar tak ada lagi kebingungan antara imajinasi ku dengan dirimu. Karena kalian sama-sama berdiri, menunggu untuk diakui.

Selamat malam, teruntuk kepada kalian yang membaca.

Jumat, 24 Juli 2015

Carried by words

Lagi,
Ia berjalan sambil menyeret sepatu nya dengan malas, aku melihatnya dari kejauhan sambil menunggu ia sendiri yang menyadari bahwa aku telah menunggu nya disini. Tetapi sudah dipastikan, jika dalam 15 menit aku belum datang menghampiri nya, ia akan menghentikan taksi dan pergi ke rumah ku dengan sendirinya. Dia terlalu malas untuk mencari, dan terlalu mandiri untuk menunggu.
Kini ia duduk diatas koper nya. Menoleh kanan-kiri lalu berjalan untuk menghampiri salah satu minimarket di bandara. Ia akan membeli satu kopi kemasan dan satu cemilan coklat yang berbentuk stick...YEP! tebakan ku benar.

Hey, masih ada 10 menit lagi, ya? mari kita habiskan detik-detik ini untuk diriku menceritakan tentang dirinya. Hal paling favorit sedunia. Ya, siapa yang peduli? Aku sudah tahu kau akan mengatakan hal itu. Kalau begitu, biarkan lah saya melakukan monolog ku sendiri.

Dia seharusnya merokok. Entah mengapa, kali ini tidak ada sebatang rokok pun yang menggantung di jari-jarinya. Ia juga tidak membeli rokok tadi. Yasudahlah, nikmati saja pemandangan dirinya yang 'sepertinya' sedang mencoba hidup sehat.
Oh iya, dia adalah teman terbaik untuk berbagi cerita baik aku yang mendengarkannya, ataupun aku yang menceritakannya. Friendzone? oh bukan. atau iya? tidak peduli, Yang penting aku adalah satu-satunya orang yang ia punya di kehidupannya. Ya, bisa saja dia memang tidak punya siapa-siapa, dan ia tidak mementingkan hal itu juga. Aku saja yang mengaku-ngaku bahwa aku adalah satu-satunya manusia yang ia punya. Karena aku suka menjadi satu-satu nya. Ini diatas tingkat dari keegoisan, aku rasa.
Ia, suka membahagiakan orang lain (yang patut dibahagiakan) tetapi, dia tidak membalas budi kepada orang lain. Jika ia menolong orang yang pernah membantunya, itu bukan karena balas budi, itu hanya karena... ya dia baik saja. Bukan seperti itu cara otaknya bekerja. Aku jadi ingat, pada waktu itu dia pernah berkata kepada ku,
"Apapun yang orang itu lakukan dan berikan kepada ku adalah milik ku. jika ia mengurungkan niatnya, maka itu bukan milikku. aku tidak suka jika mereka menolong ku karena mengharapkan sesuatu dari ku. Stay on your path, Bro"
Hm, meskipun sesuka apapun aku terhadapnya, aku tetap saja merasa membalas budi adalah kewajiban. (Ah, maafkan aku yang menyinggung tentang diriku banyak-banyak)

Fisiknya?
Seperti gadis kebanyakan. Rambutnya sebahu tanpa poni, kemeja flanel adalah baju favoritnya. Tidak, dia bukan gadis tomboy. Dia tahu bagaimana berdandan sesuai situasi. Hanya saja, kemeja flanel.. aku pasti akan mencuci 8 baju yang berjenis sama selama ia menginap dirumah ku. dia memiliki baju itu lebih dari ratusan, mungkin.
Bibir nya tipis, matanya bulat besar, hidungnya normal? hehe karena menurut ku hidungnya cukup proposional, daripada hidungku yang sebesar bola tennis ini. Ia memiliki hidung dari Mama. Sedangkan aku sering menjadi bual-bualan mereka berdua tentang besarnya hidung ku ini. Ya, tak apa lah. Setidaknya itu memori yang paling aku ingat sebelum Mama meninggal.


"KAKAK!!!!"

Deng, ternyata dia melihatku memerhatikannya.

Iya, dia adikku. Mengapa? Menyedihkan, ya?

Kamu belum tahu bagaimana sedih nya diriku saat melihat dia telanjang.

Minggu, 08 Maret 2015

Tentang Senja

Mengapa senja selalu tertulis di berbagai macam puisi yang ku baca? Sebenarnya, saya sendiri tidak begitu mengerti tentang dunia per-puisi-an. Aku sempat mengambil kesimpulan, entah, mungkin karena warna oranye nya yang hanya dalam hitungan detik dapat dinikmati, atau karena cara pengucapannya begitu puitis dan cocok untuk mempercantik sebuah rima.

Senja, dimana adanya pergantian siang ke malam, dimana adanya pergantian terang ke gelap. Mudahnya, seperti itu. Namun, jikalau kau menjadi senja, apakah kau akan merasa spesial? Apakah kau akan merasa cantik atau anggun?
Senja, apakah dia nyata? Apakah dia semu?

Jelas dia adalah nyata! Dalam kondisi alam, senja adalah perubahan dimana matahari mulai terbenam akibat rotasi bumi yang berusaha bersikap adil dalam setiap detil geografisnya.
Maka, anggaplah senja mu nyata.
kini, marilah kita ceritakan senja. Tentang detik yang hanya berjalan sebentar, tentang bumi yang bersikap seimbang.
Hilangkanlah perasaan semu mu tentang senja, nikmati lah senja mu selagi bisa.

Tapi apakah senja mu dapat terus bersamamu? Sayangnya tidak, sayang. Senja tak akan pernah meninggalkan langit. Hanya saja senja bersikap simpati kepada mu dan terus datang pada waktunya agar kau sempat melihatnya. Ia tak akan menunggu mu, senja tak akan pernah ada waktu untuk menunggu dirimu yang hidupnya penuh oleh kesibukkan tentang masalah duniawi dan akhirat. Kejarlah dirinya jikalau kau berniat untuk terus menyimpannya didalam memori.

Sabtu, 28 Februari 2015

Asing

Terperanjat lah dirimu dalam kesinambungan tentang lupa diri.
Lupa ambisi, lupa ilusi. Bermain dengan api, bermain dengan salju, kini sudah tak ada bedanya karena sama sama ngilu.
---Cukup basa-basinya

Apa kabar kau, jenaka? sulit kah dirimu mempertahankan hidup?
sudah bangga kah kamu dengan tawa dari bermacam-macam orang?
Apa kau ternyata malah memilih mundur dari begitu banyaknya realita yang menganggap mu adalah orang yang sekedar bahagia?
Jangan mempersusah diri, wahai Jenaka, menyayangi seorang wanita memang kerap kali menyakitkan. Kini memang waktunya kamu bersedih di sudut ruang hias ini, biarkan saja mereka jadi kebingungan atas kelakuan mu yang sungguh merugikan.
Namun ada satu yang harus kau ingat setelah kau menangis karena merasa kurang kasih sayang seperti manusia normal, Jenaka.
Wanita tak suka dirimu, Jenaka. Wanita mencintai dirinya yang sudah terlebih dahulu memiliki keseriusan daripada engkau yang hanya bisa membuatnya tersenyum saja.
Lupakan lah seorang Wanita, Jenaka. Wanita memang bukan untuk mu.
Inilah saat nya, Jenaka. Cari lah perempuan lain yang bukan hanya sekedar Wanita.