Aku bersandar di salah satu sudut kamar nya. Aku sendiri sibuk membolak-balikkan majalah porno yang ia punya, entah mengapa gadis didepan ku ini mempunyai majalah porno tergeletak begitu saja diatas mejanya. Namun karena aku melihatnya yang sepertinya begitu malas berbicara denganku, aku pun mengurungkan niat ku untuk menanyakan "kenapa".
"Tsk.."
Aku mendongkakan kepala ku kearah nya. Dia terlihat mengernyit kepanasan karena jarinya terciprat oleh air mendidih. Dia yang mengenakan kemeja putih ku yang terlihat sangat kebesaran tanpa mengenakan bawahan layaknya memamerkan kakinya yang panjang di hadapanku. Meskipun niatnya memamerkan hal itu kepada ku adalah yang sangat tidak memungkinkan, tapi aku masih berharap kalau dia memang memamerkan hal itu kepada ku. Ah.. itu semua karena aku dan dia sudah begitu lama bersama. Semua hanya karena kebiasaan.
"Masuk-masuk aja lo ke kamar gue, emang udah minta izin?"
"Pake-pake aja lo baju gue, emang udah minta izin?", ia pun diam dan duduk diatas kursi di kamarnya.
Pikiran ku mendesak ku untuk terus berada di kamarnya, namun aku memiliki perasaan untuk cepat-cepat keluar dari kamar ini. Kamarnya yang hanya ada kasur, meja besar seperti meja di restoran sunda yang lesehan dan gantungan baju. Tidak ada lemari. Untuk kamar sebesar ini, kamar ini sungguh kosong. Aku pernah bertanya mengapa ia tidak menambahkan beberapa properti lagi, ia hanya berkata "Aku suka hal yang kosong, seperti isi kepala mu"
Sekali lagi, aku hanya tersenyum mendengar adik ku sendiri berkata seperti itu.
"Mikirin apaan sih? mau denger lagu, ngga?"
Diputarnya salah satu lagu favorit kami saat masih kecil, Only Love Can Break Your Heart
Akhirnya ada bising..
Semenjak Mama sudah berpulang ke pelukan Nya, rumah ini menjadi sepi. Kami adalah dua orang yang pendiam. Mungkin keturunan Papa? ya aku tidak pernah mengingat sosoknya, entah meskipun dia selalu ada dimana pun kami berada, kehadirannya tidak pernah begitu mengesankan didalam memoriku.
Ia berjalan ke arah ku, duduk dihadapan ku, menatap ku sok serius. "Kenapa sih?" tanya ku, terganggu oleh tatapannya
"Ajari aku dansa, kamu ikut Prom kan saat SMA? dengan Rachel? Sedangkan aku tidak"
Padahal aku dan Rachel sama sekali tidak pergi ke prom. Kami hanya menghabiskan waktu di satu taman komplek perumahan yang luas. Lumayan bisa buat tidur. Menurut kami prom hanya menghabiskan uang, namun baik orang tua ku maupun Rachel sangatlah bersemangat dengan prom. Untuk uangnya, kami habiskan untuk beli komik dan memesan Pizza Hut.
Sedangkan saat malam prom adik ku ini, Mama berada di rumah sakit, jadi.. kembali lah ia dengan maskara nya yang luntur dan mengaku berlari di malam hari untuk dapat memeluk Mama.
Dengan matanya yang membesar, memanja, mengingatkan ku saat ia memohon kepada ku untuk tidak mengatakan kepada Mama bahwa dia pulang jam dua pagi hanya karena penasaran akan dunia gemerlap. Sebagai kakak yang baik, aku pun berdiri, mengabulkan permintaan adikku Aku menyentuh pinggulnya, dan membiarkan ia menggantungkan kedua tangannya diatas pundak ku.
Setiap alunan lagu Neil Young menuntun kami bergerak maju mundur, kanan kiri, sesuai nada yang makin membawa kehanyutan ku akan...
Eh,
Tangan kanannya kini menuju kearah leher ku. Matanya terpejam, bibirnya tersenyum, ia seperti sedang terhanyut oleh aluanan lagu. Aku hanya memalingkan mataku dari hadapannya dengan menoleh ke arah lain. Namun tangan kanannya malah membimbing kepala ku untuk menghadap kepadanya.
Sehingga pada akhirnya...
Tangan kanan itu tetap membimbing ku.
Dasar adik kurang ajar.