Bulan purnama menatap malu terhadap kami yang masih kedinginan padahal sudah dibalut oleh serangkaian baju dan penutup kepala. Suasana terus menjadi dingin manapun tak ada yang ingin mencairkan suasana. Biarkanlah keadaan terus bersemayam seperti berada di antartika. Aku sudah biasa dengan keadaan seperti ini, karena sudah sewajarnya kebahagiaan tidak diwakilkan oleh suasana.
Mata nya redup namun tajam saat memandang ku, ia seakan ingin menembus apa yang ada dalam pikiran ku ini. Aku hanya tersenyum. Karena apalah aku ini yang tidak pernah bisa menerka apa yang ada di dalam pikirannya. Waktu kini memutar balikkan pencitraan tentang kasih sayang yang hanya omong kosong adanya. Walau sudah ku yakinkan untuk tidak kembali terjatuh pada lubang yang sama, sorot matanya tetap mengajakku bermain dalam sekumpulan paradoks yang dirinya buat sendiri. Yakinilah aku hanya sebuah obat dari semua keluhannya. Dan aku tetap senang akan hal itu.
Manusia pada dasarnya adalah individu terbodoh di dunia. Mau saja dipermainkan hanya karena hal itu menyenangkan meski sudah rugi bandar. Kalau begitu mari mundur sejenak mencari keyakinan tentang peradaban dunia yang makin lama makin aneh terdengar. Aku adalah salah satunya. Meski sejujurnya diriku tak memiliki keyakinan.
Karena sebagian besar jiwaku telah direnggut oleh dirinya yang fana. Kebingungan berputar dikepala namun enggan untuk dipertanyakan, kepada dirinya yang menatap ku dengan penuh kuasa.
Andai saja noda tak berarti sesuatu, maka ku habisi dia dan ku ambil kembali jiwaku. Tetapi sekali lagi untuk apa aku berpikir seperti itu, mengingat keadaan selalu berpihak kepadanya, sang tuan dari semesta ku.