Cari Blog Ini

Kamis, 23 Oktober 2014

Lentera

Pernah ku dengar pepatah mengatakan "kita tidak akan bisa melihat titik terang jika bukan dalam kegelapan", lantas aku masih senang terjebak dalam kegelapan untuk mencari titik terang itu entah kepan, entah bagaimana. Aku masih senang di selimuti oleh parau nya dunia ku yang berputar. Kian hari semakin hilang harapan saja aku untuk menemukan setitik cahaya kecil. Karena orang-orang sekelilingku terus ingin berlari dengan terang nya mereka masing-masing tanpa mau mengajak ku. Mungkin sifat alami manusia memang penuh dengan ego, ya? Sehingga tak butuh seorang teman untuk mengejar matahari. Aku jadi teringat lagu Ari Lasso.

Tapi jangan salahkan lingkungan dulu bahkan tuhan mu. Mungkin kamu sendiri yang tidak ingin berusaha mencari cahaya. Mungkin hanya kamu yang tidak peduli dengan celah itu. Biarkan saja kalau orang-orang mencari cahayanya untuk mereka masing-masing, dan sangat egois terhadap lingkungan karena lingkungan sepertinya tidak memberikan banyak manfaat kepada mereka, inti dari orang-orang itu meminta pertolongan orang lain hanya karena tuntutan sosial yang telah terlanjur dideklerasikan oleh Aristoteles. Maka kejarlah cahaya itu, sendirian.

Maafkan aku yang tiba-tiba membicarakan kamu dan merubah sudut pandang. Karena untuk aku sendiri, aku yakin suatu saat aku menemukannya, karena rintangan dalam kegelapan lah yang buat ku bertahan.

Kamu yang tiba-tiba ingin lepas kendali dari berbagai konflik yang telah memukul mu bertubi-tubi. Lalu kau minta mati. Semudah itu? Kamu itu manusia, bukan? Mudah sekali putus asa nya. Memangnya kamu sudah tahu seperti apa nanti saat mati? Lebih baik jika ajaran agama mu benar-benar terjadi, tapi mari ku tanyakan kembali, siapa yang tahu kalau itu benar-benar terjadi? Memangnya kamu pernah berbicara dengan orang mati?

Mari katakan kalau itu benar-benar terjadi. Kalau dosa mu banyak, memangnya kamu kuat dengan siksa alam kubur? Meskipun tadi kamu bilang dengan pasrahnya,
"Ya tinggal terima saja"
Dan jika kamu tidak memiliki dosa satu pun, bagaikan nabi, memangnya kamu tidak rindu kehidupan ini? Meskipun katanya, nanti kamu akan tidur nyenyak sampai dibangunkan kembali. Dan kita berdua tahu, orang-orang yang memiliki iman yang sama dengan mu juga pasti tahu, pilihan kedua tidak akan terjadi

Memangnya kamu segitunya ingin mati?
Benar-benar mati?
Hanya satu sih yang harus kau ingat, jangan menyesal kalau aku benar-benar tidak menangisi mu. Karena pada dasarnya aku lebih egois dari yang kamu kira.
(Meskipun aku tahu, kamu tidak mengharapkan tangis ku)



Malam
Dengan secangkir teh untuk menghangatkan badan yang sepertinya sedang runyam.

Sabtu, 18 Oktober 2014

2.

Aku bukan penyair
kamu tahu itu, kamu paham akan itu. Aku bukan penyair yang dapat menggantungkan sebuah cerita utuh dalam sajak yang bukan untuk dimengerti, melainkan untuk dihayati, dirasakan atau kata apapun itu yang menurut mu tepat untuk digunakan. Silahkan koreksi, aku tahu kamu penyair.
Aku tak begitu suka hal yang tersirat, mari ku jelaskan sedikit pikiran ku tentang dua dengan agak gamblang. Tak peduli kamu ingin membaca atau tidak, yang jelas aku ingin sedikit menyampaikan hal ini, dengan gaya ku, akan ku beritahu kamu sesuatu yang sebenarnya telah kamu ketahui sejak dahulu.

Pertama-tama saya ingin meminta maaf jikalau kata "tolong" akan sering terucap. Diriku memang butuh pertolongan, sepertinya

Aku hanya dapat menyampaikan sebesar-besarnya dusta dalam aksara, meski kau baru saja mengatakan bahwa aku tak pandai berdusta. Namun, kamu tahu segala perkataan manis ku hanyalah rayuan semata.
Tolong jangan terbuai, terakhir yang kutahu, kamu hampir percaya aku mencintai mu. Padahal aku sendiri tak tahu jawabannya.
Tolong, kamu, jangan berpura-pura polos. Jangan mau percaya dengan mimpi mu, sayang. Kamu tahu kan ucapan manis ku hanyalah kata perih yang tak tersampaikan?

Mau apa lagi kamu dariku?
Sudah kenyang hati ku dengan segala tetek bengek tentang cinta yang kau berikan. Sudah keram nadi ku dengan semua pengorbanan yang disebut cinta, tak ada lagi gejolak di hati, tak ada lagi selain dari kau. Lebih baik kamu mundur. Kau terlalu hebat.

Tolong, kamu jangan harapkan ku untuk kembali. Sudah cukup malu ku dihabisi oleh nafsu, sudah cukup otak ku bersetubuh dengan haru. Sudah cukup. aku tak mau lagi.
Jadi, jangan pernah kamu percaya kalau aku mencintai mu. Meski pada saat itu, hal tersebut terucap langsung dari bibirku, atau bahkan.. hati ku. Kamu tahu kan, aku pendusta.

Untuk kau, yang tak percaya kalau aku bisa berdusta.
Sampailah kita pada secarik rahasia yang akan digantungkan di sebuah kebun cerita. Sampailah kita pada sikap paling wajar seekor manusia. Walaupun, bukanlah bagiku ini sebuah rahasia. Karena kau tahu manis ku, milik kau juga. Tapi jangan cicipi aku terus menerus, nanti habis manis ku.

Aneh rasanya kalau kau merasa menyesal, padahal kau telah menelannya lumat-lumat. Telan saja biji yang mencekat tenggorakan kau, tanpa ampun, tanpa sesal.
Tak perlu ku bilang, jangan. Rela ku, kau habiskan.

Namun, jangan kau meminta maaf tentang kisah ini, Jangan kau minta maaf meski untuk zat yang ada di atas sana apalagi meminta maaf padaku. Karena, terasa sangat salah, sangat bodoh, atau mungkin hina jika kau meminta maaf padanya, padahal kau telah melakukannya. Dan maaf untukku? kau tak perlu meminta maaf padaku, yang kubutuhkan hanyalah sebuah ucapan terima kasih.

Tolong, buat ku merasa lebih dihargai, aku tahu kau telah berusaha, namun 'maaf' tak membuat ku merasa spesial. Aku ingin diriku berarti bagi diri kau. Aku ingin kau merasa sangat beruntung untuk memiliki ku, dan kau tahu aku cinta kau. Aku tahu, kau tahu aku tak akan pernah berdusta, aku tak bisa berdusta.






18 Oktober 2014