Cari Blog Ini

Jumat, 31 Juli 2015

Kalikan dengan satu

Selembar kertas putih sudah siap untuk ditulisi.
Atas dirimu yang bertamu ketika sendu, jatuh cinta, dan jenuh. Yang sungguh berani menampakkan rupa diatas abu yang berterbangan karena tertiup oleh angin. Kau pasti tahu kalau detik terus berjalan? Maka apadaya lah diriku tidak mungkin bisa menghentikan, walau memang ku ingin malam tetap menjadi malam, dan bulan terlalu bahagia karena indahnya dunia saat ini, sehingga ia merasa rugi untuk terbenam. Lalu, tetaplah kita bersemayam, mengadu satu sama lain tentang terasing nya kita di muka bumi.

Sebenarnya aku ingin membiarkan kertas ini kosong tak terisi, sehingga malam ku dan malam mu akan menuai cerita lagi. Tapi kurasa sungguh sayang jika tidak ada dirimu dalam sebuah rangkaian aksara ku kali ini, aku ingin mengingat mu disetiap untaian kata, sampai ku tersenyum-senyum bodoh karena kelakuan kita yang bodoh, juga. Meskipun kau sendiri tahu, melakukan hal bodoh ini bersama ku adalah hal yang sangat menyenangkan. Akui saja, aku akan sangat senang mendengarnya.

Hal ini bukanlah hal yang seharusnya kita lanjutkan lebih jauh. Waktu, tempat, dan posisi tidak menandakan bahwa hal ini aman untuk diperankan oleh kita. Namun, berbagai pihak mendesak kita untuk menikmati hal-hal yang bukan seharusnya seperti ini, mereka adalah kondisi dan kesempatan, sungguh kali ini kondisi benar-benar membuatku bingung setengah mati. Ya, maka tersenyumlah kamu, atas ucapan ku yang kau bisa nilai dengan diri sendiri. Ku yakin kamu membenarkan perkataan ku kali ini. Karena kita, tak pernah benar-benar berada dalam jalur yang berbeda.

Mari, ku luruskan lagi. Aku sendiri tahu, kondisi dan kesempatan bukan hanya berpihak kepada kita. Lebih pahitnya, kita memiliki mereka dalam jenis yang sama. Sehingga begitu malas bagi kita untuk melawannya, dan bodohnya (karena kita memang bodoh) kita malah sama-sama berusaha membenarkan hal yang seharusnya, ehm, salah. Dan jika terungkap, kita akan sama-sama menyangkal. Betul sekali, dengan begitu kompak nya.

Jadi, inilah kita. 
Yang sama-sama bersembunyi dari waktu, tempat, dan posisi untuk merusak keamanan. Yang sama-sama sedang bersengkokol dengan kondisi dan kesempatan untuk mencari kenyamanan. Yang sama-sama terjebak dalam relung kejenuhan yang digunakan sebagai alasan. Dan yang saling menatap tanpa adanya kiasan.

***


Habislah kata-kata ku untuk menggambarkan malam ini (dan juga malam-malam sebelumnya) 
walau ku harap, tulisan ku ini akan membawa ingatan ku kepada mu, namun tulisan tetap memutar balikkan imajinasi dengan dirinya yang muncul sebagai fantasi. Maka kalikan lah kertas ku dengan angka satu, agar tak ada lagi kebingungan antara imajinasi ku dengan dirimu. Karena kalian sama-sama berdiri, menunggu untuk diakui.

Selamat malam, teruntuk kepada kalian yang membaca.

Jumat, 24 Juli 2015

Carried by words

Lagi,
Ia berjalan sambil menyeret sepatu nya dengan malas, aku melihatnya dari kejauhan sambil menunggu ia sendiri yang menyadari bahwa aku telah menunggu nya disini. Tetapi sudah dipastikan, jika dalam 15 menit aku belum datang menghampiri nya, ia akan menghentikan taksi dan pergi ke rumah ku dengan sendirinya. Dia terlalu malas untuk mencari, dan terlalu mandiri untuk menunggu.
Kini ia duduk diatas koper nya. Menoleh kanan-kiri lalu berjalan untuk menghampiri salah satu minimarket di bandara. Ia akan membeli satu kopi kemasan dan satu cemilan coklat yang berbentuk stick...YEP! tebakan ku benar.

Hey, masih ada 10 menit lagi, ya? mari kita habiskan detik-detik ini untuk diriku menceritakan tentang dirinya. Hal paling favorit sedunia. Ya, siapa yang peduli? Aku sudah tahu kau akan mengatakan hal itu. Kalau begitu, biarkan lah saya melakukan monolog ku sendiri.

Dia seharusnya merokok. Entah mengapa, kali ini tidak ada sebatang rokok pun yang menggantung di jari-jarinya. Ia juga tidak membeli rokok tadi. Yasudahlah, nikmati saja pemandangan dirinya yang 'sepertinya' sedang mencoba hidup sehat.
Oh iya, dia adalah teman terbaik untuk berbagi cerita baik aku yang mendengarkannya, ataupun aku yang menceritakannya. Friendzone? oh bukan. atau iya? tidak peduli, Yang penting aku adalah satu-satunya orang yang ia punya di kehidupannya. Ya, bisa saja dia memang tidak punya siapa-siapa, dan ia tidak mementingkan hal itu juga. Aku saja yang mengaku-ngaku bahwa aku adalah satu-satunya manusia yang ia punya. Karena aku suka menjadi satu-satu nya. Ini diatas tingkat dari keegoisan, aku rasa.
Ia, suka membahagiakan orang lain (yang patut dibahagiakan) tetapi, dia tidak membalas budi kepada orang lain. Jika ia menolong orang yang pernah membantunya, itu bukan karena balas budi, itu hanya karena... ya dia baik saja. Bukan seperti itu cara otaknya bekerja. Aku jadi ingat, pada waktu itu dia pernah berkata kepada ku,
"Apapun yang orang itu lakukan dan berikan kepada ku adalah milik ku. jika ia mengurungkan niatnya, maka itu bukan milikku. aku tidak suka jika mereka menolong ku karena mengharapkan sesuatu dari ku. Stay on your path, Bro"
Hm, meskipun sesuka apapun aku terhadapnya, aku tetap saja merasa membalas budi adalah kewajiban. (Ah, maafkan aku yang menyinggung tentang diriku banyak-banyak)

Fisiknya?
Seperti gadis kebanyakan. Rambutnya sebahu tanpa poni, kemeja flanel adalah baju favoritnya. Tidak, dia bukan gadis tomboy. Dia tahu bagaimana berdandan sesuai situasi. Hanya saja, kemeja flanel.. aku pasti akan mencuci 8 baju yang berjenis sama selama ia menginap dirumah ku. dia memiliki baju itu lebih dari ratusan, mungkin.
Bibir nya tipis, matanya bulat besar, hidungnya normal? hehe karena menurut ku hidungnya cukup proposional, daripada hidungku yang sebesar bola tennis ini. Ia memiliki hidung dari Mama. Sedangkan aku sering menjadi bual-bualan mereka berdua tentang besarnya hidung ku ini. Ya, tak apa lah. Setidaknya itu memori yang paling aku ingat sebelum Mama meninggal.


"KAKAK!!!!"

Deng, ternyata dia melihatku memerhatikannya.

Iya, dia adikku. Mengapa? Menyedihkan, ya?

Kamu belum tahu bagaimana sedih nya diriku saat melihat dia telanjang.