Cari Blog Ini
Jumat, 26 Desember 2014
Belenggu Realita
Manusia kadang tak mau sadar kalau diri nya terjebak dalam waktu dan kondisi. Lihat saja, mana ada manusia didunia ini yang mengatakan 24 jam itu cukup untuk satu hari? Bahkan gelandangan pun belum merasa cukup terpanggang teriknya matahari, karena ia masih ingin meminta balas kasihan sampai bertemu adzan subuh kembali. Apalagi orang-orang pemimpi, seperti saya.
Dan lihat, berangan memakan banyak waktu, tapi orang-orang masih saja melakukannya. Sebagian orang sukses berpikir bahwa itu tidak penting, buang-buang waktu. Padahal salah satu syarat nya untuk bisa berdiri pada jabatannya sekarang adalah sebuah mimpi. Waktu.
Beralih ke kondisi. Kondisi buat kita runyam sewaktu-waktu. Buat kita berbohong bahkan bisa saja tidak peduli jika kita sendiri memegang utuh suatu komitmen. Kondisi buat kita berakhir perih atau malah kebalikannya. Disaat berbagai macam masukan memaksa kita untuk tidak menapakkan kaki pada hal itu tapi kondisi berkata sebaliknya, kondisi yang hanya kamu ketahui seorang. Kondisi dirimu dimana tidak ada satupun orang mengerti bahkan, untuk sekedar 'ingin mengerti' saja sudah ogah.
Hingga kini waktu dan kondisi merupakan peran terpenting bagi kehidupan seseorang. Terus bermain dan menghancurkan setiap individu saat sedang asyik menyalahkan mereka sebagai peran antagonis utama. Yang sebenarnya tidak bisa dibenarkan dan disalahkan juga, sih.. karena pada hakikatnya mereka adalah peran penting yang tidak mengaku penting. Inosen tetapi sungguh penuh muslihat.
Aku sendiri kini sibuk menyalahkan Waktu dan Kondisi. Menyumpahkan kata-kata terbinal ku hanya untuk mereka berdua. Tapi apa daya? Waktu tak akan bergeming meskipun umpatan ku begitu keji, dan kondisi juga tak akan sudi untuk berubah walaupun ku berdoa sampai mati.
Kadang setiap nasip ku malah membuat ku penasaran, apa ini bukan salah mereka?
Namun, siapa lagi yang patut aku salahkan? Aku? Jika aku mengaku salah pasti hati terdalam ku tetap menolak mentah-mentah dan merasa tak adil hingga berbohong lagi lah aku sebegai manusia. Atau orang-orang itu? Mereka juga sama dengan aku, kebingungan untuk menempatkan waktu dan kondisi yang tepat, dan dengan menyalahkan mereka, sama saja dengan menyalahkan diriku sendiri.
Karena aku dan mereka sama-sama benda hidup yang memiliki emosi.
Sedangkan Waktu dan Kondisi tak lain dari benda mati yang pasrah untuk diumpati.
Maafkan saya Waktu.. Maafkan saya Kondisi..
Ini adalah kali pertama saya meminta maaf pada sosok terjahat di muka bumi.
26/12/2014
Rabu, 24 Desember 2014
Sepertinya saya melanggar batas, atau malah anda?
Selasa, 09 Desember 2014
selfishness.
"I made up my mind I was going to find someone who would love me unconditionally three hundred and sixty five days a year, I was still in elementary school at the time - fifth or sixth grade - but I made up my mind once and for all.”
“Wow,” I said. “Did the search pay off?”
“That’s the hard part,” said Midori. She watched the rising smoke for a while, thinking. “I guess I’ve been waiting so long I’m looking for perfection. That makes it tough.”
“Waiting for the perfect love?”
“No, even I know better than that. I’m looking for selfishness. Perfect selfishness. Like, say I tell you I want to eat strawberry shortcake. And you stop everything you’re doing and run out and buy it for me. And you come back out of breath and get down on your knees and hold this strawberry shortcake out to me. And I say I don’t want it anymore and throw it out the window. That’s what I’m looking for.”
“I’m not sure that has anything to do with love,” I said with some amazement.
“It does,” she said. “You just don’t know it. There are time in a girl’s life when things like that are incredibly important.”
“Things like throwing strawberry shortcake out the window?”
“Exactly. And when I do it, I want the man to apologize to me. “Now I see, Midori. What a fool I have been! I should have known that you would lose your desire for strawberry shortcake. I have all the intelligence and sensitivity of a piece of donkey shit. To make it up to you, I’ll go out and buy you something else. What would you like? Chocolate Mousse? Cheesecake?”
“So then what?”
“So then I’d give him all the love he deserves for what he’s done.”
“Sounds crazy to me.”
“Well, to me, that’s what love is…"
Norwegian Wood, Haruki Murakami.
the most favorite part from this novel.
i honestly agreed with Midori.
well, fuck you, uyul.