Ada kisah dimana kami saling menatap linglung.
Tentang menyapa yang begitu terasa salah, dan tentang melangkah jauh yang makin mengukir penyesalan. Aku ini terasing dalam silir angin, tak kenal siapa-siapa layaknya daun yang gugur tertiup angin.
Merana disetiap sudut bola mata seseorang yang asyik dalam mempermainkan sapaan dalam sebuah konsep yang universal. Sedangkan apalah aku ini, hanya seseorang yang penuh oleh keterasingan khayalan yang dibuat-buat sendiri.
Namun selalu begitu akhirnya, aku tidak bisa memperjuangkan khayalan ku sendiri. Biarkanlah ilusi ku merana diatas trotoar yang diinjak-injak oleh pejalan kaki, tidak dipungut, tidak dibuang ketempatnya. Karena hanya disitulah ilusi ku pantas bersemayam. Dijalanan, dan tidak ada yang memedulikan.
Kini aku menanyakan hal ini kepada diriku sendiri, untuk apa aku tersenyum manis kepada halnya yang hanya ingin menjadi ilusi seseorang? Padahal ku sudah lelah, aku ini terlalu sering jatuh di lubang yang sama.
Eh, untuk apa aku menceritakan masa lalu? hahaha
Baiklah untuk dirimu yang selalu berhasil membuat perut ini bergetar setiap kamu menyapa diriku,
Tolong lah jangan berhenti menyapaku.
Poin "Jangan jatuh di Lubang yang sama" :)
BalasHapus