Lagi,
Ia berjalan sambil menyeret sepatu nya dengan malas, aku melihatnya dari kejauhan sambil menunggu ia sendiri yang menyadari bahwa aku telah menunggu nya disini. Tetapi sudah dipastikan, jika dalam 15 menit aku belum datang menghampiri nya, ia akan menghentikan taksi dan pergi ke rumah ku dengan sendirinya. Dia terlalu malas untuk mencari, dan terlalu mandiri untuk menunggu.
Kini ia duduk diatas koper nya. Menoleh kanan-kiri lalu berjalan untuk menghampiri salah satu minimarket di bandara. Ia akan membeli satu kopi kemasan dan satu cemilan coklat yang berbentuk stick...YEP! tebakan ku benar.
Hey, masih ada 10 menit lagi, ya? mari kita habiskan detik-detik ini untuk diriku menceritakan tentang dirinya. Hal paling favorit sedunia. Ya, siapa yang peduli? Aku sudah tahu kau akan mengatakan hal itu. Kalau begitu, biarkan lah saya melakukan monolog ku sendiri.
Dia seharusnya merokok. Entah mengapa, kali ini tidak ada sebatang rokok pun yang menggantung di jari-jarinya. Ia juga tidak membeli rokok tadi. Yasudahlah, nikmati saja pemandangan dirinya yang 'sepertinya' sedang mencoba hidup sehat.
Oh iya, dia adalah teman terbaik untuk berbagi cerita baik aku yang mendengarkannya, ataupun aku yang menceritakannya. Friendzone? oh bukan. atau iya? tidak peduli, Yang penting aku adalah satu-satunya orang yang ia punya di kehidupannya. Ya, bisa saja dia memang tidak punya siapa-siapa, dan ia tidak mementingkan hal itu juga. Aku saja yang mengaku-ngaku bahwa aku adalah satu-satunya manusia yang ia punya. Karena aku suka menjadi satu-satu nya. Ini diatas tingkat dari keegoisan, aku rasa.
Ia, suka membahagiakan orang lain (yang patut dibahagiakan) tetapi, dia tidak membalas budi kepada orang lain. Jika ia menolong orang yang pernah membantunya, itu bukan karena balas budi, itu hanya karena... ya dia baik saja. Bukan seperti itu cara otaknya bekerja. Aku jadi ingat, pada waktu itu dia pernah berkata kepada ku,
"Apapun yang orang itu lakukan dan berikan kepada ku adalah milik ku. jika ia mengurungkan niatnya, maka itu bukan milikku. aku tidak suka jika mereka menolong ku karena mengharapkan sesuatu dari ku. Stay on your path, Bro"
Hm, meskipun sesuka apapun aku terhadapnya, aku tetap saja merasa membalas budi adalah kewajiban. (Ah, maafkan aku yang menyinggung tentang diriku banyak-banyak)
Fisiknya?
Seperti gadis kebanyakan. Rambutnya sebahu tanpa poni, kemeja flanel adalah baju favoritnya. Tidak, dia bukan gadis tomboy. Dia tahu bagaimana berdandan sesuai situasi. Hanya saja, kemeja flanel.. aku pasti akan mencuci 8 baju yang berjenis sama selama ia menginap dirumah ku. dia memiliki baju itu lebih dari ratusan, mungkin.
Bibir nya tipis, matanya bulat besar, hidungnya normal? hehe karena menurut ku hidungnya cukup proposional, daripada hidungku yang sebesar bola tennis ini. Ia memiliki hidung dari Mama. Sedangkan aku sering menjadi bual-bualan mereka berdua tentang besarnya hidung ku ini. Ya, tak apa lah. Setidaknya itu memori yang paling aku ingat sebelum Mama meninggal.
"KAKAK!!!!"
Deng, ternyata dia melihatku memerhatikannya.
Iya, dia adikku. Mengapa? Menyedihkan, ya?
Kamu belum tahu bagaimana sedih nya diriku saat melihat dia telanjang.
COK! Gue mending lesbian, INI INSES!?!?!?!?
BalasHapusHEHEHE TAPI KAN NGGA ADA LANJUTANNYA
HapusYah lanjutin dong.
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusakhirnya menulis kembali.
BalasHapus