Waktu sudah menunjukkan jam 2 pagi. Aku berjalan melihat malam yang masih bergemerlap, suara hingar bingar mulai mereda. Konser salah satu band favorit ku telah usai, dan aku kebingungan mencari jalan pulang. Tapi aku memutuskan kembali diam dan mulai melepas sandal ku agar telapak kaki ku dapat merasakan pasir pantai legian ini, aku melangkah mendekati ombak.. dingin
Aku mengecek handphone ku dan melihat sms dari Acong
Aku mengecek handphone ku dan melihat sms dari Acong
"Masih sibuk, go find Ck or 711 i'll meet u there"
"Control freak" desah ku. Aku mencantolkan kedua sandal ku di tas selempang ku, dan melangkah menjauh dari ombak. Terlalu dingin untuk malam ini.
Aku bertelanjang kaki sambil berjalan di trotoar, tidak ada yang begitu memedulikannya. Setelah menemukan CK aku melangkahkan kaki ku masuk ke toko itu. Mengambil satu kopi kotakan dan meminta satu bungkus rokok.
Aku bertelanjang kaki sambil berjalan di trotoar, tidak ada yang begitu memedulikannya. Setelah menemukan CK aku melangkahkan kaki ku masuk ke toko itu. Mengambil satu kopi kotakan dan meminta satu bungkus rokok.
Aku memutuskan untuk duduk di kursi yang sudah disediakan, menikmati kertas yang menggulung tembakau ini, yang semoga tidak membuatku mengambil nya lebih. Namun sial, korek tidak ada di tas mungil ku, hingga satu orang datang menghampiri ku dan menyuguhkan korek berwana pink.
"Tadi ini terjatuh saat kamu melompat-lompat di pantai, kamu terlihat menikmati suara orang yang nyanyi di panggung tadi, kamu harus tahu aku juga menikmati nya." Ucapnya panjang lebar. Aku hanya terdiam melihatnya karena merasa aneh akan kedatangannya, lalu aku mengambil korek ku. Sepertinya dia seorang autis, aku menerka dari gerak-geriknya yang terlihat sama dengan Tio, tetangga ku yang kebetulan seorang autis. Namun, di sisi lain, dia terlihat normal, hanya canggung.
"Kamu tahu, aku harus meminta maaf. Karena aku baru saja mengikuti mu, aku juga melepas sandal ku, lihat?. Kamu tidak mau menyalakan batang yang berasap itu?" Tanya nya makin gelagapan, aku melihat kaki nya, dia benar-benar menyeker. 'Bagaimana bisa aku merokok didepan orang yang tidak merokok?' pikirku, tapi karena malas menjelaskannya mengapa aku tidak menyalakan rokok ku yang malah bengong melihat ke arahnya, aku lebih memilih merespon nya dengan senyum lalu menyalakan rokok ku.
"Tadi ini terjatuh saat kamu melompat-lompat di pantai, kamu terlihat menikmati suara orang yang nyanyi di panggung tadi, kamu harus tahu aku juga menikmati nya." Ucapnya panjang lebar. Aku hanya terdiam melihatnya karena merasa aneh akan kedatangannya, lalu aku mengambil korek ku. Sepertinya dia seorang autis, aku menerka dari gerak-geriknya yang terlihat sama dengan Tio, tetangga ku yang kebetulan seorang autis. Namun, di sisi lain, dia terlihat normal, hanya canggung.
"Kamu tahu, aku harus meminta maaf. Karena aku baru saja mengikuti mu, aku juga melepas sandal ku, lihat?. Kamu tidak mau menyalakan batang yang berasap itu?" Tanya nya makin gelagapan, aku melihat kaki nya, dia benar-benar menyeker. 'Bagaimana bisa aku merokok didepan orang yang tidak merokok?' pikirku, tapi karena malas menjelaskannya mengapa aku tidak menyalakan rokok ku yang malah bengong melihat ke arahnya, aku lebih memilih merespon nya dengan senyum lalu menyalakan rokok ku.
Tanpa permisi dia duduk dihadapanku. "Maaf, aku ingin duduk. Me..lihat wajah mu, bolehkah?" Karena iba, aku mencoba untuk menjawabnya, pastinya dengan tutur bahasa sopan walaupun aku sebenarnya malas bicara. "Berhentilah meminta maaf, kamu terlalu baik untuk meminta maaf" aku menghembuskan asap dari mulutku.
"Bagaimana rasanya?" Matanya tertuju kepada rokok ku
"manis, ujung nya sih manis tapi pas dihisap itu lain cerita"
"Bolehkah aku menghisapnya?" Tanyanya lagi, seperti anak kecil yang ingin tahu tentang mengapa ada bintang di langit.
"Nih"
Dia menghisap nya, lalu menghembuskannya. Ia melakukannya secara sempurna, tidak batuk atau bahkan terlihat merasa aneh pun tidak. Jujur saja, dia sama sekali tidak seperti seorang yang terkena kelainan mental saat melakukannya. Benar-benar sangat normal. Apakah dia pernah merokok sebelumnya?
"Bagaimana rasanya?" Matanya tertuju kepada rokok ku
"manis, ujung nya sih manis tapi pas dihisap itu lain cerita"
"Bolehkah aku menghisapnya?" Tanyanya lagi, seperti anak kecil yang ingin tahu tentang mengapa ada bintang di langit.
"Nih"
Dia menghisap nya, lalu menghembuskannya. Ia melakukannya secara sempurna, tidak batuk atau bahkan terlihat merasa aneh pun tidak. Jujur saja, dia sama sekali tidak seperti seorang yang terkena kelainan mental saat melakukannya. Benar-benar sangat normal. Apakah dia pernah merokok sebelumnya?
"Kamu tahu kan kalau autis itu cepat dalam mempelajari sesuatu? melihat mu menghisap dan menghembuskan nya sudah cukup membuat ku tahu bagaimana cara mempraktekkannya, aku tidak pernah tahu bahwa rasanya lumayan.... maaf nama kamu siapa?"
Aku mengangkat kedua alisku, berpikir mengapa dia dapat mengetahui apa yang aku pikirkan
"Nayla" jawab ku singkat.
"Apakah kamu mau tahu nama ku siapa?"
Rasanya aku mau tertawa melihat ekspresinya, sedikit ingin menggoda ku, tapi sayang nya malah jatuh menjadi terlihat ingin melucu
"Mungkin" aku tertawa kecil
"Yudhistira"
"Yudhistira, piawai dalam bertutur bahasa ya?" Aku spontan bertanya karena mengingat tugas sastra untuk mencari tahu tentang anak-anak Pandawa yang diberikan guru ku, dan salah satu dari mereka bernama Yudhistira.
"Ini semua karena aku diajarkan seperti ini. Maaf"
"Jangan minta maaf"
"..."
Aku mengambil handphone ku dan menemukan 2 sms, semua dari Acong yang mengatakan kalau dia sudah selesai segala urusan ngga penting nya, aku berniat untuk berpamitan dengan Yudhistira
"Aku harus.."
"Pergi?" Tebaknya memotong perkataan ku
"Ya.. ak.."
"Saya mengerti, anda sangat bosan dengan saya, saya cuma seorang yang monoton, kan? Anda tidak akan menemukan sesuatu yang menarik dari saya, anda cantik dan saya tahu wanita cantik semua sama saja, saya bodoh karena tidak mengingat nasehat itu"
aku terkejut dengan perkataannya, selain karena dari perubahan nya dalam bertutur bahasa dari 'aku kamu' menjadi 'saya anda', aku juga tidak menyangka bahwa dia baru saja berkata bahwa aku cantik. Ya.. dan juga.. aku tidak bisa membiarkannya mengatakan bahwa semua wanita cantik itu sama saja.
"Terima kasih telah menganggapku cantik, aku sangat tersanjung karena telah mendengarnya, namun aku lebih memilih dikatakan tidak cantik daripada dikatakan cantik tapi dianggap sama saja, oh tunggu, kamu cepat dalam mempelajari sesuatu kan? Kamu pasti telah belajar dengan orang yang salah, pertama, wanita semuanya cantik, kedua, manusia semua nya berbeda, ketiga wanita adalah manusia jadi, wanita tidak semuanya sama" aku mengambil nafas dan melanjutkan, "bagaimana?"
Aku mengangkat kedua alisku, berpikir mengapa dia dapat mengetahui apa yang aku pikirkan
"Nayla" jawab ku singkat.
"Apakah kamu mau tahu nama ku siapa?"
Rasanya aku mau tertawa melihat ekspresinya, sedikit ingin menggoda ku, tapi sayang nya malah jatuh menjadi terlihat ingin melucu
"Mungkin" aku tertawa kecil
"Yudhistira"
"Yudhistira, piawai dalam bertutur bahasa ya?" Aku spontan bertanya karena mengingat tugas sastra untuk mencari tahu tentang anak-anak Pandawa yang diberikan guru ku, dan salah satu dari mereka bernama Yudhistira.
"Ini semua karena aku diajarkan seperti ini. Maaf"
"Jangan minta maaf"
"..."
Aku mengambil handphone ku dan menemukan 2 sms, semua dari Acong yang mengatakan kalau dia sudah selesai segala urusan ngga penting nya, aku berniat untuk berpamitan dengan Yudhistira
"Aku harus.."
"Pergi?" Tebaknya memotong perkataan ku
"Ya.. ak.."
"Saya mengerti, anda sangat bosan dengan saya, saya cuma seorang yang monoton, kan? Anda tidak akan menemukan sesuatu yang menarik dari saya, anda cantik dan saya tahu wanita cantik semua sama saja, saya bodoh karena tidak mengingat nasehat itu"
aku terkejut dengan perkataannya, selain karena dari perubahan nya dalam bertutur bahasa dari 'aku kamu' menjadi 'saya anda', aku juga tidak menyangka bahwa dia baru saja berkata bahwa aku cantik. Ya.. dan juga.. aku tidak bisa membiarkannya mengatakan bahwa semua wanita cantik itu sama saja.
"Terima kasih telah menganggapku cantik, aku sangat tersanjung karena telah mendengarnya, namun aku lebih memilih dikatakan tidak cantik daripada dikatakan cantik tapi dianggap sama saja, oh tunggu, kamu cepat dalam mempelajari sesuatu kan? Kamu pasti telah belajar dengan orang yang salah, pertama, wanita semuanya cantik, kedua, manusia semua nya berbeda, ketiga wanita adalah manusia jadi, wanita tidak semuanya sama" aku mengambil nafas dan melanjutkan, "bagaimana?"
Dia terdiam. Melihat lurus dan tajam kepada mataku. Tapi tetap terasa hangat.
"Kamu cantik, kamu pintar, bisakah anda mengajarkan ku sesuatu?"
aku melihat nya bingung
"Kecup saya di bibir"
Aku mendelik kaget. Melangkahkan kaki ku untuk mundur, namun bukannya kabur aku malah menghentikannya dan tidak tahu ada setan apa ditubuhku, dengan yakin aku menggerakkan tangan ku untuk mengelus dagu nya. Menariknya mendekati wajahku. Lalu mengecupnya secara singkat, didaerah yang barusan ia minta.
"Apa kecup dan cium itu berbeda?"
"Sepertinya berbeda. Aku khawatir kamu tidak autis"
"Harusnya aku meminta kamu mengajarkan aku berciuman. Mungkin aku bukan, karena aku berharap aku tidak autis"
"Kamu mudah berkomunikasi, kamu tidak autis" wajahku benar-benar masih dekat dengan wajahnya
"Aku dalam terapi, hum.. kamu tahu betapa canggung nya dalam posisi ini?"
Aku menarik tangan ku lepas dari leher nya.
"I'm not gonna believe you that easily, saya pergi duluan, Yudhistira, selamat belajar merayu dan mengecup wanita lain dengan berpura-pura autis bersama wajah tidak berdosa mu"
Dia hanya tersenyum canggung, terlihat bingung dan salah tingkah atau mungkin dia tidak mengerti apa yang baru saja aku katakan. Oh sial, Senyuman canggung itu.. membuatnya terlihat begitu lugu, apakah dia benar-benar memiliki kelainan mental? Aku jadi merasa tidak enak, tapi aku berusaha menyingkirkan pikiran itu dari kepalaku. Aku langsung melongos pergi sampai akhirnya dia memanggilku lagi, "Nayla! batang-batang tembakau ini? Apakah untukku?"
Aku menengok kebelakang dan tersenyum
"Officially yours, Yudhistira"
Pipinya bersemu dan menunduk malu.
"Kamu cantik, kamu pintar, bisakah anda mengajarkan ku sesuatu?"
aku melihat nya bingung
"Kecup saya di bibir"
Aku mendelik kaget. Melangkahkan kaki ku untuk mundur, namun bukannya kabur aku malah menghentikannya dan tidak tahu ada setan apa ditubuhku, dengan yakin aku menggerakkan tangan ku untuk mengelus dagu nya. Menariknya mendekati wajahku. Lalu mengecupnya secara singkat, didaerah yang barusan ia minta.
"Apa kecup dan cium itu berbeda?"
"Sepertinya berbeda. Aku khawatir kamu tidak autis"
"Harusnya aku meminta kamu mengajarkan aku berciuman. Mungkin aku bukan, karena aku berharap aku tidak autis"
"Kamu mudah berkomunikasi, kamu tidak autis" wajahku benar-benar masih dekat dengan wajahnya
"Aku dalam terapi, hum.. kamu tahu betapa canggung nya dalam posisi ini?"
Aku menarik tangan ku lepas dari leher nya.
"I'm not gonna believe you that easily, saya pergi duluan, Yudhistira, selamat belajar merayu dan mengecup wanita lain dengan berpura-pura autis bersama wajah tidak berdosa mu"
Dia hanya tersenyum canggung, terlihat bingung dan salah tingkah atau mungkin dia tidak mengerti apa yang baru saja aku katakan. Oh sial, Senyuman canggung itu.. membuatnya terlihat begitu lugu, apakah dia benar-benar memiliki kelainan mental? Aku jadi merasa tidak enak, tapi aku berusaha menyingkirkan pikiran itu dari kepalaku. Aku langsung melongos pergi sampai akhirnya dia memanggilku lagi, "Nayla! batang-batang tembakau ini? Apakah untukku?"
Aku menengok kebelakang dan tersenyum
"Officially yours, Yudhistira"
Pipinya bersemu dan menunduk malu.
'Apa yang baru saja aku lakukan?' Batin ku pun bertanya terus menerus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar