Cari Blog Ini

Rabu, 08 Mei 2013

Untitled

  Aureen duduk di  ruang tamu menunggu seseorang yang paling ia tunggu sejak 6 bulan lalu. Seseorang yang paling ia rindu. Rindu nya sangat menggebu untuk menemuinya, dia lah satu satu nya untuk Aureen. Bukan hanya yang paling pertama melainkan cinta satu-satu nya untuk selamanya, begitu janjinya berkata kepada seorang pria bernama Narayan pada bulan Agustus 2010.

  Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. "Seharusnya Narayan sudah sampai" pikir Aureen sambil melihat jam tangannya yang menggantung indah di tangan kirinya. Narayan sudah berjanji dia akan datang pukul 3 sore. "Mungmin macet, nunggu sebentar lagi, deh" batinnya lagi.
  Selama waktu terus berjalan, karena terlalu lama menunggu Aureen pun mulai melamun. Lamunan nya kembali pada bulan Agustus tahun lalu, dimana saat Narayan menundukan lututnya, menatapnya lekat-lekat dan terlihat amat sangat serius, matanya menatap tulus kepada Aureen seakan kalau yang ingin ia katakan adalah hal yang paling penting dalam hidupnya, lalu sambil memegang tangan Aureen erat ia berkata..
"Aku akan mencintai mu selalu dan selamanya, tidak peduli di masa apapun, tidak peduli dalam keadaan apapun, aku akan berusaha melindungi mu, dan melindungi segenap hadiah dari Tuhan yag dikaruniai untuk cinta kita.." Saat itu Aureen sudah kehilangan kata-kata. Dipikirannya hanya ada 3 kata yang sangat berarti "aku cinta kamu." hatinya yang luluh membuat kata-kata itu terlahir mejadi janji, bukan hanya gombal dan rayuan belaka. Janji itu akan selalu ia ingat disetiap derap langkah yang ia jalani, seberapa jauh dan seberapa lama mereka terpisahkan.

   KRIINGGG!!! KRIIING!!!
Suara telepon membuyarkan lamunan Aureen, ia langsung menghampiri telepon itu dan berharap kalau telepon itu dari Narayan. "Halo.. Dengan mbak Aureen?" tanya seorang pria dari seberang, namun sayangnya bukan suara pria yang ia harapkan. "Ya, saya sendiri, ada apa ya, mas?" "kami dari rumah sakit Pelita Harapan, disini kami mempunyai pasien bernama Narayan Mahesa, pasien ini baru saja tertimpa kecelakaan, dan Mas Narayan meminta kami untuk menyuruh Mbak datang kemari.." suaran terhenti diseberang seperti ada suara orang lain yang mendesak agar lebih cepat, namun Aureen tidak begitu mempedulikannya, dan langsung menjawab "Saya menuju kesana"

   Aureen mengambil tas dan menyalajan mobilnya, ia menyetir dengan kecepatan yang hampir diatas 110 km/jam. Aureen memang bukan penyetir yang handal, namun kalau untuk Narayan, ia akan melakukan semuannya tanpa terkecuali.
Sesampainya di rumah sakit, dia datang dengan sangat panik menuju resepsionis "Narayan Mahesa" ucapnya panik. Wajahnya memerah dan ingin menemui Narayan secepatnya "Setelah lama tidak jumpa, mengapa harus dalam keadaan seperti ini, sih?" batin Aureen. Suster langsung mengantar Aureen ke ruangan ICU tempat dimana Narayan dirawat sambil mencerita apa yang telah terjadi, tetapi Aureen tidak begitu mendengarkannya, dan akhirnya ia pun sampai didepan pintu ICU.

   Saat memasuki ruangan, disana dia langsung melugat Narayan yang sedang tersenyum kepadanya. Senyum paling indah, pikir Aureen. Tangis rindu mereka tidak bisa tertahankan lagi, dan membanjiri wajah pasangan sejoli itu, Aureen langsung berlari menuju Narayan dan memeluknya, erat.
"Kamu kenapa? Kemana saja?" bentaknya namun masih dengan suara yag lembut dan masih tidak percaya melihat Narayan yang terbaring lemah di kasur rumah sakit.
"Aku gak apa-apa, hanya tadi sedikit kecelakaan, dan kepala ku terbenur hehehe" jawabnya sambil cengengesan. "kamu ini, belum berubah dari dulu, bawa mobil gapernah bener kalau udah mau ketemu aku haaha" candanya.
Mereka terus berbagi cerita dan becanda tidak ada habisnya, benar-benar tidak ada kejanggalan dari itu semua. Narayan tampak seperti orang yang sudah pasti sudah boleh pulang dari rumah sakit. Para suster dan mantri yang menjaga ICU sesekali melihat ke arah pasangan itu, lalu berdecak kagum.

  Setelah beberapa jam berlalu Aureen akhirnya bekata "kamu terlihat sangat sehat, besok kayaknya udah boleh pulang, ya?" "iya aku udah boleh pulang, mungkin sekarang aku juga bisa" jawab Narayan sambil tersenyum tidak ikhlas.
"Kenapa? kamu gak mau pulang?" tanya Aureen lagi yang selalu bisa membaca isyarat Narayan dari ekspresi wajahnya. "Sedikit gak ikhlas, tapi harus. Dan sebelum aku pulang aku hanya ingin menghabiskan menit-menit yang tersisa ini sama kamu."
Aureen jelas tersontak kaget dengan ucapan Narayan, sangat ambigu yang membuat nya penuh dengan curiga. "Yan?" "Yan, kamu bercanda?" Narayan hanya menggeleng lemah dan tersenyum simpul.

   Aureen melepaskan dirinya dari pelukan Narayan, wajahnya tersirat ekspresi kebingungan. Narayan tersenyum lemah melihat Aureen. Senyuman itu ternyata maah membuat Aureen makin putus asa. Dia membalikkan badannya, menangis sesenggukan, tidak bisa menerima apa yang baru saja kekasihnya katakan. Dia berharap Narayan hanya bercanda, tapi Narayan terlihat begitu serius. Narayan melihat Aureen tak tega, nemun sudah tak ada lagi yang ia dapat lakukan melihat keadaannya yang diperban sana-sini.

    Tiba-tiba Aureen berlari menghampiri salah satu suster paruh baya, ia terlihat seperti ingin meminjam sesuatu. Awalnya suster itu tidak ingin memberikan sesuatu tersebut. Namun saat melihat wajah Aureen begitu memelas dan matanya sangat memohon, suster itu pun akhirnya mencair hatinya dan meminjamkan Aureen sebuah cincin.
   Aureen kembali menghampiri kasur Narayan, semua orang dari pasien, penjenguk hingga suster dan mantri melihatnya penasaran dengan apa yang akan ia lakukan. Sesekali ada suara bisikan, namun Aureen sama sekali tidak ambil pusing.
Narayan menatap Aureen kaget, matanya mulai menitikkan air mata, ya di detik-detik ia meninggalkan wanita terkasihnya ini. Lalu Aureen pun berkata,
"Ini mungkin terlihat dan terdengar konyol, Aku sudah sangat cinta sama kamu, gak mungkin aku bisa ngelepasin kamu gitu aja dengan sesuatu yang berakhir menggantung. Mungkin aku bisa gila setelah ini karena kehilangan mu, atau mungkin orang-orang di ruangan ini menganggap aku gila dan tidak tahu malu..Tapi sungguh, bersedia kah kamu menjadikan aku pasangan hidupmu? Meskipun hanya untuk sekian detik ini saja?"

   Seisi ruangan mulai gundah karena bisikan, namun tetap serius memperhatikan peristiwa miris itu. Beberapa ada yag menitikan air matanya.
"Reen.. Ini rumah sakit bukan tempat romantis buat ngelamar, lagipula seharusnya laki-laki yang ngelakuin ini semua" kata Narayan, matanya sudah berlinang air mata, namun ia tetap menahan air matanya, disisi lain Aureen tetap mengelak, "Aku butuh jawaban, Yan, bukan nasihat, jawab aku.." suaranya hampir tidak terdengar karena ia berbicara sambil sesenggukan.
Lagi-lagi Narayan tersenyum lemah, yang justru membuat hati Aureen menjadi lebih remuk.
"Aku mencintai mu, sangat. Aku milik mu selamanya, tolong ingat, meskipun aku tidak disana bersama mu, meskipun kamu bersama orang lain.." suara EKG terdengar memelan, seperti suara Narayan yang makin melemah. Aureen sudah mulai hilang harapan "Yaann.." rengeknya sambil mencengkram tangan Narayan, kencang lalu melipat jari-jari Narayan di sela-sela jari nya. Namun meskipun suaranya melemah, ia tetap melanjutkan perkataannya itu, dalam keadaan sadar tak sadar
".. Dan apapun halangannya, apapun yang memisahkan Aku akan tetap mencintai mu selalu dan selamanya, Reen"

beeeeeeeeeeeeep.........................................................

Begitu suara beep sudah terdengar dari EKG, begitu juga Aureen memasukan jari manis Narayan ke lubang cincin "Meskipun hanya sedetik, Yan" batinnya.

*5 tahun kemudian*

"Kamu sangat cantik.." bisik Ibu kepada Aureen Aureen melihat dirinya di kaca lalu tersenyum puas, berharap bahwa Narayan yang nanti akan menemani nya di atas pelaminan.
"Damar pasti akan bangga sekali saat melihat mu saat ini, punya calon istri cantik banget.." tambahnya.
"Ibu bisa aja, ini mah karena make up aja bu.." jawab Aureen merendah. Ibu melihat Aureen dengan saksama, tahu apa yang dipikirkan anak semata wayang nya ini "Ibu tahu kok perasaan mu, masih belum bisa ngiklasin kan?" tebaknya. "Haha,aku bisa kok bu, ya meskipun belum bisa melupakan kejadian dulu... Dan besar cinta pada Damar gak akan bisa dibandingkan dengan Narayan" ucap Aureen.
Padahal hati nya masih terlalu sakit setengah mati untuk mengingat masa itu.

"Saya terima nikahnya Aureen Syakh binti Achmad sebesar mas kawin seperangat alat solat dibayar tunai" Damar mengucapkan ijab kabulnya dengan tegas. Namun pikiran Aureen malah melayang pada kalimat Narayan pada 5 tahun silam
"...melindungi segenap hadiah dari Tuhan yag dikaruniai untuk cinta kita.." Dan untungnya teriakan "SAH" dari orang-orang sekitar cepat menyadarkannya, jadi dia tidak seperti orang yang terjebak nostalgia saat pelaminan berlangsung.
Saat pemasangan cincin berlangsung Damar mengucapkan janji pada Aureen dan diriya sendiri "Aku memang tidak bisa menggantikan tempatnya dihati mu, namun aku bisa menjadi tang terbaik untukmu..."
Aureen pun menjawab dengan berbisik "Aku pun akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu, Dam"

Dan meskipun bayang-bayang Narayan selalu menyelimuti kehidupan Aureen, dia tidak bisa dan tak boleh selalu terpuruk dalam kehilangan terlalu lama. Karena kita bisa menemukan cinta disekitar kita. Walaupun bukan yang selalu kita harapkan..






(inspired by forever and always - parachute)

APA SIH LO YUL SOK ROMANTIS BGT KALI NULIS BEGINIAN AHAAHA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar